Tuesday, January 19, 2021

Sejarah Seni Nusantara

 Sejarah Seni Nusantara

Muhamad Gian Ikhsan, M.Pd



Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan seni dan budaya paling beragam di dunia. Keberagaman tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses sejarah yang panjang sejak masa prasejarah. Seni rupa Nusantara merupakan bagian penting dari ekspresi kebudayaan manusia Indonesia sejak ribuan tahun lalu, yang mencerminkan cara pandang, sistem kepercayaan, serta kebutuhan hidup masyarakat pada masanya.

Perkembangan seni rupa di Nusantara dapat ditelusuri sejak zaman prasejarah, terutama pada masa ketika manusia belum mengenal tulisan (praaksara). Bukti-bukti arkeologis berupa lukisan gua, alat batu, perhiasan, hingga bangunan megalitik menunjukkan bahwa seni rupa tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga memiliki nilai simbolik, religius, dan fungsional. Artikel ini akan membahas secara komprehensif perkembangan seni rupa Nusantara pada masa prasejarah, khususnya pada Zaman Batu, yang meliputi Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, dan Megalitikum.

Pengertian Seni Rupa Nusantara

Seni rupa Nusantara adalah hasil karya visual masyarakat Indonesia yang berkembang sesuai dengan kondisi geografis, lingkungan alam, dan sistem sosial-budaya setempat. Menurut Soedarso Sp., seni rupa Nusantara memiliki ciri khas kuat yang bersifat simbolik, fungsional, serta berkaitan erat dengan nilai religius dan tradisi masyarakatnya. Seni rupa tidak berdiri sendiri sebagai ekspresi estetis, melainkan menyatu dengan kehidupan sehari-hari dan sistem kepercayaan.

Dalam konteks sejarah, seni rupa Nusantara berkembang secara bertahap mengikuti perkembangan peradaban manusia, mulai dari masyarakat berburu dan meramu hingga masyarakat yang mengenal pertanian dan sistem kepercayaan yang lebih kompleks.

Perkembangan Seni Rupa Nusantara pada Zaman Batu

Zaman Batu merupakan fase awal dalam sejarah perkembangan seni rupa Nusantara. Pada masa ini, manusia menggunakan batu sebagai bahan utama dalam pembuatan alat dan karya seni. Zaman Batu dibagi menjadi empat periode utama, yaitu Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, dan Megalitikum.

1. Zaman Batu Tua (Paleolitikum)

Zaman Paleolitikum merupakan periode paling awal dalam sejarah manusia praaksara. Pada masa ini, manusia hidup secara nomaden dengan cara berburu dan meramu. Karya seni rupa yang dihasilkan masih sangat sederhana, tetapi memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting.

a. Ciri-ciri Seni Rupa Paleolitikum

  • Bersifat fungsional dan praktis
  • Menggunakan alat dari batu kasar
  • Belum memperhatikan unsur keindahan secara kompleks
  • Berkaitan erat dengan aktivitas bertahan hidup

b. Bukti Seni Rupa Paleolitikum di Nusantara

Salah satu bukti paling terkenal adalah lukisan gua di Leang-Leang, Sulawesi Selatan, yang berupa:

  • Cap telapak tangan
  • Gambar manusia
  • Lukisan hewan buruan

Lukisan tersebut diperkirakan berusia lebih dari 40.000 tahun dan menjadi salah satu lukisan gua tertua di dunia. Menurut para arkeolog, lukisan ini memiliki fungsi simbolik dan ritual, bukan sekadar hiasan.

Selain itu, ditemukan pula alat-alat batu seperti kapak genggam, yang termasuk dalam seni terapan karena memiliki fungsi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Temuan kapak batu banyak ditemukan di daerah:

  • Pacitan (Jawa Timur)
  • Gombong (Jawa Tengah)
  • Sukabumi (Jawa Barat)
  • Parigi (Sulawesi)

2. Zaman Batu Tengah (Mesolitikum)

Zaman Mesolitikum merupakan masa peralihan dari kehidupan nomaden menuju kehidupan semi menetap. Pada periode ini, manusia mulai tinggal di gua-gua dan tepi pantai.

a. Perkembangan Seni Rupa Mesolitikum

Seni rupa pada masa ini menunjukkan kemajuan dibandingkan Paleolitikum. Manusia mulai memperhalus alat-alatnya dan menghasilkan lebih banyak variasi benda. Beberapa temuan penting meliputi:

  • Flakes (serpihan batu tajam)
  • Ujung panah
  • Kapak batu kecil
  • Batu penggiling (pipisan)
  • Alat dari tulang dan tanduk rusa

Temuan ini menunjukkan bahwa manusia Mesolitikum telah memiliki keterampilan teknis yang lebih baik dan mulai mengenal unsur estetika sederhana.

b. Nilai Seni dan Budaya

Menurut Koentjaraningrat, perkembangan alat dan karya seni pada masa Mesolitikum mencerminkan meningkatnya kesadaran manusia terhadap lingkungan serta kemampuan adaptasi budaya.

3. Zaman Batu Muda (Neolitikum)

Zaman Neolitikum merupakan tonggak penting dalam perkembangan seni rupa Nusantara. Pada masa ini, manusia telah mengenal sistem pertanian dan hidup menetap.

a. Ciri-ciri Seni Rupa Neolitikum

  • Alat batu sudah diasah halus
  • Muncul hiasan dan ornamen
  • Seni rupa mulai bersifat estetis dan simbolik

b. Temuan Seni Rupa Neolitikum

Beberapa alat dan karya seni penting antara lain:

  • Kapak persegi (ditemukan di Lahat, Bogor, Sukabumi, Karawang, Pacitan, Tasikmalaya, lereng Gunung Ijen)
  • Kapak lonjong (ditemukan di Papua, Minahasa, Serawak, Kepulauan Tanimbar)

Selain alat, berkembang pula seni hias berupa:

  • Tembikar bermotif geometris
  • Perhiasan cincin, kalung, dan gelang dari batu
  • Pakaian dari kulit kayu

Motif hias pada tembikar umumnya memiliki makna magis dan religius yang berkaitan dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.

4. Zaman Batu Besar (Megalitikum)

Zaman Megalitikum ditandai dengan pembangunan struktur batu besar yang memiliki fungsi religius dan sosial.

a. Ciri-ciri Seni Rupa Megalitikum

  • Berskala besar
  • Bersifat monumental
  • Berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap roh leluhur

b. Bentuk Seni Rupa Megalitikum

Beberapa bentuk karya seni Megalitikum di Nusantara antara lain:

Menhir

Batu tegak yang berfungsi sebagai simbol penghormatan kepada roh leluhur.

Dolmen

Meja batu besar yang digunakan sebagai tempat sesaji atau penutup kubur.

Punden Berundak

Bangunan bertingkat yang menjadi cikal bakal bentuk candi pada masa Hindu-Buddha.

Sarkofagus

Peti kubur dari batu untuk menyimpan jenazah tokoh penting.

Menurut Soekmono, seni Megalitikum menjadi fondasi penting bagi perkembangan seni arsitektur Nusantara pada masa klasik.

Analisis Perkembangan Seni Rupa Nusantara

Perkembangan seni rupa Nusantara pada Zaman Batu menunjukkan bahwa seni selalu hadir sebagai bagian integral dari kehidupan manusia. Seni rupa tidak hanya berfungsi sebagai keindahan visual, tetapi juga sebagai media komunikasi, simbol kepercayaan, dan alat sosial.

Perubahan gaya hidup manusia dari berburu hingga bertani membawa dampak signifikan terhadap bentuk dan fungsi seni rupa. Semakin kompleks struktur sosial masyarakat, semakin berkembang pula bentuk seni yang dihasilkan.

Penutup

Seni rupa Nusantara pada masa prasejarah merupakan fondasi penting bagi perkembangan seni dan budaya Indonesia hingga saat ini. Melalui lukisan gua, alat batu, perhiasan, dan bangunan megalitik, kita dapat memahami cara berpikir, sistem kepercayaan, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat masa lampau.

Memahami perkembangan seni rupa Nusantara bukan hanya mempelajari masa lalu, tetapi juga upaya untuk merawat identitas budaya bangsa di tengah arus globalisasi.


Daftar Pustaka

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Soedarso Sp. (2006). Sejarah Perkembangan Seni Rupa Indonesia. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.

Soekmono. (1981). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Kanisius.

Kartodirdjo, S. (1992). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Kemdikbud RI. (2017). Seni Budaya untuk SMA/MA. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Civics Education

Integritas Nasional dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika

Integritas Nasional dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika Oleh Muhamad Gian Ikhsan, M.Pd 1. Indonesia sebagai negara yang multikultura...